Fugue Amnesia Disosiatif: Orang Hilang Karena Berubah Identitas Baru Diluar Kesadaran Diri
Oleh: Dr.dr.H.Jaya Mualimin, Sp.KJ, M.Kes, MARS
Pendahuluan
Pernahkah kita mendengar orang, anak bayi, atau anak remaja hilang? Sering terjadi banyak spekulasi penyebab hilangnya seseorang, ada yang karena diculik dan dibunuh atau bermacam kejahatan. Itu lazim sehingga ditemukan sudah jadi mayat atau diminta tebusan. Ada sebab lain yang dianggap di luar normal, “aneh”, yaitu ia pulang sendiri atau ditemukan dalam keadaan linglung/bingung. Kasus ini sering dikaitkan dengan makhluk halus, wewe gombel, kuntilanak, atau memedi. Orang awam sering mengaitkan hal ini pada hal supranatural, padahal tidak semua kasus demikian. Ada kasus orang menghilang karena masalah mental yang disebut disosiatif, yang ditandai dengan hilangnya memori diri, sehingga apa yang telah menimpa dirinya tidak diingat. Pengalaman saya berpraktik sebagai psikiater menemukan disosiatif amnesia yang saya bagikan untuk menambah literasi yang menarik, sebagai berikut:
Contoh Kasus Lokal
Saya punya pasien disosiatif, laki-laki, 45 tahun, seorang pegawai eksekutif, berkeluarga, yang menghilang lebih dari 6 bulan. Ia dilaporkan hilang sepulang dari kantor dan meninggalkan mobilnya di parkiran. Setelah ditemukan, ia tidak bisa mengingat apa yang telah dilakukan selama belum ditemukan keluarganya. Saat ditemukan, justru ia mengaku baru pulang dari kantornya. Ia dapat melakukan kehidupan seperti biasa, tetapi semua ingatan/memori tentang diri, keluarga, pekerjaan, dan sosial hilang, bahkan namanya sendiri lupa. Saat bermasyarakat, ia beridentitas baru. Cukup menarik kasus ini, berdasarkan pengalaman saya praktik sebagai dokter psikiater di Kota Balikpapan.
Contoh Kasus Lain dari Literatur
- Shirley Ardell Mason (1923–1998), juga dikenal sebagai “Sybil”, pernah menghilang dan kemudian muncul kembali tanpa mengingat apa yang terjadi selama rentang waktu tersebut. Dia mengingat “berada di sini dan kemudian tidak di sini” dan tidak memiliki identitas diri. Psikiaternya, Cornelia Wilbur, mengklaim bahwa dia juga menderita gangguan identitas disosiatif. Diagnosis DID yang diberikan Wilbur dibantah oleh Herbert Spiegel, seorang sezaman dengan Wilbur.
- Jody Roberts, seorang reporter untuk Tacoma News Tribune, menghilang pada tahun 1985 dan baru ditemukan 12 tahun kemudian di Sitka, Alaska, hidup dengan nama “Jane Dee Williams”. Meskipun awalnya ada beberapa kecurigaan bahwa dia berpura-pura amnesia, beberapa ahli kemudian meyakini bahwa dia benar-benar mengalami keadaan fugue yang berkepanjangan.
- David Fitzpatrick, yang menderita gangguan fugue disosiatif, diprofilkan di Inggris dalam serial televisi Five Extraordinary People. Ia memasuki keadaan fugue pada tanggal 4 Desember 2005 dan sedang berusaha memulihkan ingatan seluruh hidupnya pada saat penampilannya dalam episode serial dokumenter tersebut.
- Hannah Upp, seorang guru yang berasal dari Salem, Oregon, didiagnosis menderita fugue disosiatif setelah ia menghilang dari rumahnya di New York pada Agustus 2008 dan diselamatkan dari Pelabuhan New York 20 hari kemudian. Liputan berita pada saat itu berfokus pada penolakannya untuk berbicara dengan detektif tepat setelah ia ditemukan dan fakta bahwa ia terlihat memeriksa emailnya di Apple Store saat ia hilang. Liputan ini kemudian menimbulkan kritik terhadap sikap yang sering kali “menghukum dan mendiskreditkan” terhadap kondisi disosiatif. Pada tanggal 3 September 2013, ia mengalami fugue lagi, menghilang dari pekerjaan barunya sebagai asisten guru di Crossway Community Montessori di Kensington, Maryland. Ia ditemukan tanpa cedera dua hari kemudian, pada tanggal 5 September 2013, di Wheaton, Maryland. Pada tanggal 14 September 2017, ia menghilang lagi, terakhir kali terlihat di dekat Sapphire Beach di rumahnya di St. Thomas tepat sebelum kedatangan Badai Maria pada bulan itu. Ibunya dan sekelompok teman mencarinya di Kepulauan Virgin dan daerah sekitarnya; pada tahun 2026, dia masih hilang.
- Jeff Ingram muncul di Denver pada tahun 2006 tanpa mengingat namanya atau dari mana dia berasal. Setelah penampilannya di televisi nasional untuk meminta bantuan mengidentifikasi dirinya, tunangannya menelepon polisi Denver dan mengidentifikasinya. Episode tersebut didiagnosis sebagai fugue disosiatif. Hingga Desember 2012, Ingram telah mengalami tiga insiden amnesia: pada tahun 1994, 2006, dan 2007.
- Doug Bruce “sadar” di dalam kereta bawah tanah dan mengaku tidak ingat namanya, asal daerahnya, atau dokumen identitas apa pun.
- Kasus Bruneri–Canella melibatkan dugaan kemunculan kembali seorang pria yang hilang selama Perang Dunia I.
- Agatha Christie (mungkin). Setelah serangkaian peristiwa traumatis dan menegangkan, Christie menghilang pada tahun 1926 dan ditemukan di sebuah hotel spa setelah melakukan check-in dengan nama lain; ketika ditemukan, ia mengaku menderita amnesia. Sejarawan Lucy Worsley berpendapat bahwa perilaku Christie dapat dijelaskan karena Christie mengalami keadaan fugue.
- Lizzie Borden, yang mungkin telah membunuh ayah dan ibu tirinya dalam keadaan disosiatif.
Bagi masyarakat awam tentu ini sangat aneh, apalagi dengan kultur budaya yang menganggap seseorang diambil makhluk halus/jin atau masuk ke alam lain. Padahal kasus ini sangat berbeda. Disosiatif murni terjadi karena kehilangan memori (memory loss) yang dialami seseorang akibat faktor pencetus masalah psikogenik.
Apa Itu Fugue Amnesia?
Fugue amnesia atau fugue disosiatif, yang sebelumnya disebut sebagai keadaan fugue atau fugue psikogenik, adalah kondisi kejiwaan langka yang ditandai dengan amnesia reversibel mengenai identitas seseorang, sering disertai dengan perjalanan atau pengembaraan yang tidak terduga. Dalam beberapa kasus, individu dapat mengambil identitas baru dan tidak dapat mengingat informasi pribadi dari sebelum timbulnya gejala. Kondisi ini diklasifikasikan sebagai gangguan mental dan perilaku dan dikategorikan secara beragam sebagai gangguan disosiatif, gangguan konversi, atau gangguan gejala somatik. Menurut Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5), fugue disosiatif adalah subset dari amnesia disosiatif.
Tanda dan Gejala
Gejala fugue disosiatif meliputi kebingungan ringan selama episode dan, setelah pemulihan, kemungkinan perasaan depresi, kesedihan, rasa malu, ketidaknyamanan, atau kemarahan pasca-fugue. Ciri utama kondisi ini adalah hilangnya identitas seseorang.
Diagnosis
Sebelum fugue disosiatif dapat didiagnosis, amnesia disosiatif atau gangguan identitas disosiatif harus didiagnosis terlebih dahulu. Satu-satunya perbedaan antara amnesia disosiatif, gangguan identitas disosiatif, dan fugue disosiatif adalah bahwa orang yang terkena fugue disosiatif melakukan perjalanan atau berkeliaran. Perjalanan atau berkeliaran ini biasanya dikaitkan dengan identitas yang disebabkan oleh amnesia atau lingkungan fisik orang tersebut.
Terkadang fugue disosiatif tidak dapat didiagnosis sampai pasien kembali ke identitas pra-fugue dan merasa tertekan karena mendapati diri mereka berada dalam keadaan yang tidak dikenal, terkadang dengan kesadaran akan “waktu yang hilang”. Diagnosis biasanya dilakukan secara retrospektif ketika dokter meninjau riwayat dan mengumpulkan informasi yang mendokumentasikan keadaan sebelum pasien meninggalkan rumah, perjalanan itu sendiri, dan pembentukan kehidupan alternatif.
Amnesia fungsional juga dapat bersifat spesifik situasi, bervariasi dari semua bentuk dan variasi trauma atau pengalaman kekerasan secara umum, dengan seseorang mengalami kehilangan ingatan yang parah untuk trauma tertentu. Melakukan pembunuhan, mengalami atau melakukan kejahatan kekerasan seperti pemerkosaan atau penyiksaan, mengalami kekerasan dalam pertempuran, mencoba bunuh diri, serta mengalami kecelakaan mobil dan bencana alam telah menyebabkan kasus amnesia spesifik situasi. Dalam kasus-kasus yang tidak biasa ini, kehati-hatian harus dilakukan dalam menafsirkan kasus amnesia disosiatif ketika ada motif yang kuat untuk memalsukan defisit ingatan karena alasan hukum atau keuangan. Namun, meskipun sebagian kecil kasus amnesia disosiatif dapat dijelaskan dengan cara ini, secara umum diakui bahwa kasus yang sebenarnya tidak jarang terjadi. Baik amnesia global maupun amnesia spesifik situasi sering dibedakan dari sindrom amnesia organik karena kapasitas untuk menyimpan ingatan dan pengalaman baru tetap utuh. Mengingat sifat kehilangan ingatan yang sangat halus dan sering kali dramatis dalam kasus-kasus tersebut, biasanya ada upaya bersama untuk membantu orang tersebut memulihkan identitas dan sejarah mereka. Hal ini terkadang memungkinkan subjek untuk pulih secara spontan ketika isyarat tertentu ditemui.
Pemulihan
Pemulihan dari keadaan fugue biasanya menghasilkan pemulihan ingatan sebelumnya dan pengobatan tambahan umumnya tidak diperlukan. Episode tidak dianggap sebagai fugue disosiatif jika disebabkan oleh zat psikotropika, trauma fisik, kondisi medis umum, atau gangguan seperti gangguan identitas disosiatif, delirium, atau demensia. Fugue disosiatif sering dipicu oleh pengalaman traumatis yang berkepanjangan dan paling sering dikaitkan dengan individu yang mengalami pelecehan seksual masa kanak-kanak, di mana mereka mengembangkan amnesia disosiatif untuk menekan ingatan tentang pelecehan tersebut.
Penutup
Penyakit psikogenik ini sering dihubungkan dengan kultur budaya lokal, seperti kesurupan massal, folie à deux (komunitas atau kelompok tertentu), dan masih banyak lagi masalah mental yang masih menjadi perdebatan para ahli kejiwaan dan psikologi di dunia.
Semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam bishawab.
Tentang Penulis
Dr. dr. H. Jaya Mualimin, Sp.KJ., M.Kes., MARS adalah tokoh kesehatan, sosial, dan keagamaan di Kalimantan Timur. Beliau menjabat sebagai Ketua Ittihad Persaudaraan Imam Masjid Kalimantan Timur, Ketua Cabang Yayasan Pondok Pesantren Al Bahjah Kalimantan Timur, Ketua IKA UNPAD Kalimantan Timur, serta Pembina Majelis Dzikir Nurul Wathan Kalimantan Timur. Selain aktif dalam kegiatan keagamaan dan pendidikan, beliau juga dikenal sebagai pemerhati sosial dan budaya. Di bidang pemerintahan, beliau saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur.

