Folie à deux adalah Waham Pengaruh dari Kharisma Pemimpin

Folie à deux adalah Waham Pengaruh dari Kharisma Pemimpin

Oleh: Dr.dr.H.Jaya Mualimin, Sp.KJ, M.Kes, MARS

Pembukaan

Berita di media sosial tentang satu keluarga—suami, istri, dan anak-anaknya—membuat bingung keluarga besar mereka, bahkan masyarakat luas. Mereka pergi bersama kelompok tertentu dalam sebuah komunitas yang menarik diri dan mengisolasi diri dari lingkungan sekitar.

Pada tahun 2012, Indonesia digemparkan oleh Gerakan Fajar Nusantara yang dikenal sebagai “Gafatar”. Tokoh sentralnya adalah Ahmad Musadeq. Semua pengikut diwajibkan berhijrah atau pindah serta mengisolasi diri dari komunitas luar. Dengan kharisma yang dimilikinya, Musadeq memengaruhi emosi, kognisi, dan perilaku para pengikutnya sehingga menjadi fanatik terhadap kelompok tersebut. Ide-ide Musadeq ditularkan dari satu orang kepada satu atau lebih individu yang memiliki hubungan erat dengan sang pemimpin, sehingga mereka akhirnya memiliki gagasan delusional yang sama.

Beberapa gerakan atau aliran lain yang mirip Gafatar juga terdapat di tengah masyarakat. Umumnya gerakan tersebut dibalut dengan kedok agama, politik, maupun sosial-ekonomi, tergantung siapa pemicunya. Ada yang mengaku sebagai sufi, ada yang mengaku sebagai raja, dan semuanya memiliki komunitas pengikut tersendiri. Kondisi yang berlangsung secara intens dan terus-menerus ini sering dikenal dengan istilah folie à deux.

Istilah Folie à deux

Istilah folie pertama kali dijelaskan sebagai folie communiquée pada tahun 1860 oleh Baillarger, dan sebagai folie à deux pada tahun 1877 oleh Lasègue dan Falret. Banyak sinonim telah digunakan untuk menggambarkan kondisi ini, yang sebagian besar mencerminkan gagasan tentang penularan kondisi tersebut, yaitu communicated insanity (kegilaan yang dikomunikasikan), contagious insanity (kegilaan menular), infectious insanity (kegilaan infeksius), association psychosis (psikosis asosiasi), dan double insanity (kegilaan ganda).

Meskipun kondisi ini melibatkan dua orang, kondisi tersebut dapat meluas dari subjek asli kepada tiga, empat, atau lima orang, yaitu folie à trois, folie à quatre, dan folie à cinq, atau bahkan kepada seluruh keluarga yang disebut folie à famille. Folie à deux tidak diragukan lagi merupakan kondisi yang menarik dan sangat relevan untuk memahami psikopatologi manusia. Kondisi ini mungkin merupakan contoh paling mengesankan dari hubungan patologis. Oleh karena itu, pemahaman terhadap mekanisme yang mendasarinya memiliki implikasi teoretis bagi berbagai bentuk hubungan interpersonal yang terganggu lainnya.

Al-Mubashirat: Berita Gembira dan Peringatan

Sesuai dengan hadis Nabi ﷺ, sisa-sisa kenabian adalah mimpi yang benar dari orang yang jujur. Muhammad Qasim telah mengalami berbagai mimpi sepanjang hidupnya. Mimpi-mimpi ini dibagikan kepada masyarakat dunia agar menjadi berita gembira atas datangnya pertolongan Allah ﷻ.

Pesan dalam mimpi-mimpinya juga memberikan peringatan mengenai berbagai peristiwa yang akan dialami dunia saat ini, seperti bencana-bencana, peperangan, kerusakan, fitnah Dajjal, serta Ya’juj dan Ma’juj yang akan merusak dunia karena dendam mereka kepada manusia.

Mimpi Muhammad Qasim Bukan Waham (Delusi) atau Halusinasi

Mimpi Muhammad Qasim bukanlah waham (delusi) ataupun halusinasi, bukan pula khayalan atau imajinasi. Ia juga tidak mengumpulkan jemaah untuk mengangkat dirinya sebagai pemimpin. Tidak ada deklarasi dirinya sebagai pemimpin ataupun “Imam al-Mahdi”.

Pesan mimpinya diyakini murni berasal dari Allah ﷻ dan terbebas dari berbagai aliran yang menyimpang, kultus individu, maupun waham pengaruh (folie à deux). Pesan utama dari mimpi-mimpinya adalah mendukung penyebaran mimpi tersebut dengan tema menyembah Allah ﷻ semata, yaitu: “Lā ilāha illallāh.”

Penutup

Folie à deux adalah kondisi ketika waham dari seorang pemimpin sentral menginfeksi jemaah atau para anggotanya. Kondisi ini termasuk dalam kategori gangguan mental.

Al-Mubashirat berlepas diri dari gerakan isolasi sosial (social withdrawal) ataupun uzlah yang dilakukan dalam komunitas-komunitas “kampung akhir zaman”. Sebab, sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan, penyampainya justru harus hadir di tengah-tengah masyarakat agar dikenal secara luas sebagai legacy prophetic yang in progress.

Wallāhu a’lam bi al-shawāb.

Tentang Penulis

Dr. dr. H. Jaya Mualimin, Sp.KJ., M.Kes., MARS adalah tokoh kesehatan, sosial, dan keagamaan di Kalimantan Timur. Beliau menjabat sebagai Ketua Ittihad Persaudaraan Imam Masjid Kalimantan Timur, Ketua Cabang Yayasan Pondok Pesantren Al Bahjah Kalimantan Timur, Ketua IKA UNPAD Kalimantan Timur, serta Pembina Majelis Dzikir Nurul Wathan Kalimantan Timur. Selain aktif dalam kegiatan keagamaan dan pendidikan, beliau juga dikenal sebagai pemerhati sosial dan budaya. Di bidang pemerintahan, beliau saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *