Iqra Itu Perintah Ketauhidan Sepanjang Masa
Oleh: Dr.dr.H.Jaya Mualimin, Sp.KJ, M.Kes, MARS
Pembuka
Risalah terakhir dari bangunan ketauhidan telah paripurna. Risalah Muhammad ﷺ bagian dari batu bata bangunan tauhid yang diawali perintah Iqra’ “bacalah ya Muhammad”, menjadi sangat urgen dibicarakan kembali karena tidak hanya berkaitan ketika Muhammad bin Abdullah bertemu Jibril AS di Hira, tetapi juga saat menutup risalah di ujung akhir dunia. Saat digambarkan kondisi ketauhidan telah jauh melenceng dari pesan awal, sehingga pertolongan Allah ﷻ tidak hadir di tengah umat dari sisa umur 500 tahun terakhir. Perpecahan, kebodohan, sosial budaya dan kultural yang terpuruk dan memprihatinkan.
Tulisan ini ingin mengetuk hati umat, sehingga dapat kembali meraih cita-cita kejayaannya sesuai perintah wahyu iqra’, Inshaallah.
Iqra’ adalah Perintah Ketauhidan
“Iqra'” adalah perintah Tauhid pertama yang turun. Bukan tanpa alasan wahyu pertama berbunyi “Bacalah”, bukan “shalatlah” atau “berpuasalah”. Sebab, sebelum beramal, otak perlu mengenal dan memahami terlebih dahulu siapa yang disembahnya.
Iqra’ bukan sekadar perintah literasi, melainkan perintah untuk membangun cara pandang yang benar terhadap Tuhan, diri, dan alam semesta. Inilah fondasi epistemologi Tauhid abadi yang menjadi dasar seluruh amal.
Manusia menggunakan otaknya diperintahkan untuk mengamati, menganalisis, dan mengikuti algoritma tanda-tanda yang Allah bentangkan di alam semesta, hingga sampai pada kesimpulan: La ilaha illallah.
Kaitan Iqra’ dengan Tauhid
Iqra’ bismi Rabbik – Baca dengan nama Tuhanmu
Perintah membaca itu langsung disambungkan dengan “bismi Rabbik”. Artinya, manusia tidak diperintahkan membaca alam, sejarah, atau dirinya sendiri dengan kacamata kosong yang bertumpu pada ego, tetapi dengan lensa Tauhid: “Ini ciptaan Rabbku.
Jika membaca tanpa “bismi Rabbik”, maka hasilnya mudah bergeser menjadi sekadar pandangan materialistik yang melahirkan kesombongan ego. Dalam konteks spiritual, ini dapat menjadi bibit syirik khafi yang halus.
Sebaliknya, membaca dengan “bismi Rabbik” menghadirkan kesadaran akan Tauhid Rububiyah: bahwa di balik keteraturan, desain, dan kasih sayang yang tampak di alam semesta, ada Allah sebagai Pencipta, Pengatur, dan Pemelihara. Inilah pintu awal menuju ketauhidan.
Iqra’ Memaksa Otak Keluar dari Ilusi Mandiri
Otak manusia cenderung merasa “aku yang paham, aku yang hebat”. Perintah “Iqra'” itu merendahkan ego. Ketika manusia diperintahkan untuk membaca, itu berarti ada Penulis. Ada yang menciptakan sesuatu yang bisa dibaca.
Dari sini manusia diarahkan pada Tauhid Rububiyah bahwa Allah ﷻ satu-satunya Pencipta, Pengatur, Pemelihara. Tidak ada yang terjadi secara kebetulan.
Iqra’ adalah Proses Mengingat Perjanjian dengan Ruh
Sebagai ruh, manusia telah bersaksi, “Balaa syahidna” sebelum dilahirkan ke dunia. Namun ketika ego, hawa nafsu, dan kesibukan dunia mengambil alih, kesaksian itu perlahan terlupakan.
Dalam makna yang lebih dalam, Iqra’ adalah proses membuka kembali ingatan fitrah tersebut. Membaca bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga mengingat kembali siapa Tuhan, siapa diri kita, dan untuk apa kita diciptakan.
Urutan Wahyu Menunjukkan Logika Tauhid
Urutan wahyu memberikan gambaran tentang proses bertauhid yang benar:
1.Iqra’: Kenali terlebih dahulu siapa Tuhanmu melalui membaca, memahami, dan merenungkan tanda-tanda-Nya.
2.Al-Muddassir: Setelah mengenal-Nya, bangkitlah dan sampaikan kebenaran kepada sesama.
3.Al- Muzamil: Setelah itu, kuatkan diri dengan ibadah malam, dzikir, dan kesabaran agar tetap teguh dalam menjalankan amanah..
Urutan tersebut tidak dapat dibalik. Jika seseorang diperintahkan beribadah sebelum mengenal Tuhannya, ibadah itu berisiko menjadi formalitas yang kosong dari makna. Sebaliknya, jika seseorang diajak mengenal Tuhan tanpa dorongan untuk membaca, belajar, dan memahami, maka pengenalannya mudah berhenti pada perasaan semata.
Karena itu, Iqra’ menjadi fondasi awal. Membaca melahirkan pemahaman, pemahaman melahirkan pengenalan kepada Tuhan, pengenalan melahirkan tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran, dan semua itu memerlukan penguatan diri melalui ibadah, dzikir, serta kesabaran.
Jujur adalah Tanda Tauhid dari Sifat Seseorang
Orang yang benar-benar “membaca” dunia dengan jujur pada akhirnya akan sampai pada kesadaran ketuhanan. Sebab, setiap tanda yang dibacanya akan mengarah kepada pengakuan akan keesaan Tuhan (tauhid).
Semakin jujur seseorang dalam membaca realitas, semakin ia menyadari bahwa segala sesuatu memiliki keteraturan, tujuan, dan makna. Pada akhirnya, seluruh tanda itu bermuara pada ketauhidan.
Sifat Pertama para Utusan adalah Kejujuran
Semua utusan Tuhan adalah pribadi yang dikenal jujur bahkan sebelum diutus. Kejujuran itulah salah satu indikator awal ketauhidan yang tertanam dalam diri mereka.
Bagaimana mungkin seorang utusan membohongi Tuhannya, sementara ia memikul amanah untuk menyampaikan pesan-pesan ilahiah kepada umat manusia? Justru karena kejujuran dan integritasnya itulah mereka dipercaya untuk membawa risalah-Nya.
Membaca atau “Literasi” Ciri Umat Akhir Zaman
Ada 3 istilah sebagai manusia pilihan zaman, sebagai generasi emas yaitu: Literasi, Legacy, Kompetensi. Tiga kata ini kalau dihubungkan jadi kerangka hidup dengan perintah “Iqra’ di atas.
Literasi adalah Alat untuk Iqra’
Literasi bukan hanya kemampuan baca tulis semata, melainkan kemampuan untuk memproses, memahami, dan memberi makna terhadap informasi.
Literasi Al-Qur’an (Qauliyah) adalah kemampuan membaca, memahami, dan mengamalkan. Inilah fondasi agar seseorang tidak keliru dalam memahami makna “bismi Rabbik”.
Literasi Alam (Kauniyah) adalah kemampuan membaca pola, hubungan sebab-akibat, dan desain yang terdapat di alam semesta. Otak dilatih untuk mengenali tanda-tanda kebesaran Allah.
Literasi Diri adalah kesadaran terhadap kelemahan, bias, dan emosi diri. Mengenal diri merupakan bagian dari perjalanan menuju Tauhid.
Tanpa literasi, Iqra’ berhenti pada level lisan. Ada suara yang terucap, tetapi maknanya belum benar-benar masuk, dipahami, dan menjadi pengetahuan yang hidup dalam otak manusia.
Kompetensi adalah Bukti Iqra’ yang Hidup
Kompetensi adalah kemampuan yang telah terasah melalui literasi. Literasi merupakan input, sedangkan kompetensi adalah outputnya.
Kompetensi berpikir adalah kemampuan membedakan mana fakta, mana asumsi, dan mana bias. Kompetensi moral adalah kemampuan bersikap jujur meskipun menghadapi risiko atau kerugian, karena memahami bahwa ada Rabb yang senantiasa mengawasi. Sedangkan kompetensi amal adalah ilmu yang diwujudkan dalam tindakan. Tidak hanya memahami Tauhid, tetapi juga menjalani kehidupan yang selaras dan konsisten dengannya.
Iqra’ yang benar akan selalu meningkat menjadi kompetensi. Jika seseorang hanya mengumpulkan informasi tanpa mengalami perubahan dalam pemahaman dan perilaku, maka itulah yang dapat disebut sebagai “literasi mati”.
Legacy adalah Jejak Iqra’ yang Tinggal
Legacy adalah jejak yang tetap tinggal setelah seseorang tiada. Dalam perspektif Islam, legacy bukan sekadar nama yang dikenang atau bangunan yang ditinggalkan, tetapi pengaruh kebaikan yang terus hidup dan memberi manfaat.
Ketika literasi dan kompetensi dibangun dalam kerangka Tauhid, maka legacy yang lahir tidak hanya bernilai duniawi, tetapi juga bernilai ukhrawi.
Legacy dapat berupa ilmu yang terus diamalkan oleh orang lain. Legacy dapat berupa karakter yang diwariskan kepada anak, murid, sahabat, dan masyarakat yang meneladani kejujuran, integritas, serta ketauhidan. Legacy juga dapat berupa amal yang terus mengalir pahalanya, seperti wakaf, pendidikan, dakwah, dan berbagai bentuk kebaikan yang manfaatnya tidak terputus.
Tanpa Tauhid, legacy sering kali berhenti pada nama, gelar, dan peninggalan fisik. Namun dengan Tauhid, legacy berubah menjadi amal jariah yang terus mengalir hingga setelah kematian.
Karena itulah Allah memulai risalah Islam dengan perintah Iqra’ (bacalah). Literasi yang benar melahirkan pemahaman yang benar. Pemahaman yang benar melahirkan kompetensi yang lurus. Kompetensi yang lurus akan menghasilkan legacy yang membawa keselamatan di dunia dan akhirat.
Al-Mubashirat Memberi Pesan Membaca
Al-Mubashirat adalah kabar gembira dari Allah yang dapat hadir melalui mimpi yang benar. Istilah ini berasal dari hadis Nabi ﷺ:
“Tidak tersisa dari kenabian kecuali Al-Mubashirat.” Para sahabat bertanya, “Apakah Al-Mubashirat itu?” Nabi menjawab, “Mimpi yang benar yang dilihat oleh seorang muslim atau diperlihatkan kepadanya.”
Mengapa Al-Mubashirat sering memberi pesan yang mendorong umat untuk membaca, belajar, dan kembali kepada Allah ﷻ ?
Mimpi yang benar merupakan salah satu bagian dari sisa-sisa kenabian. Mimpi para nabi adalah wahyu, sedangkan mimpi yang benar bagi umat setelah wafatnya Rasulullah ﷺ bukanlah wahyu yang membawa syariat baru, melainkan sarana untuk meneguhkan hati, mengarahkan kepada kebaikan, dan membangunkan manusia dari kealpaan.
Dalam konteks ini, mimpi yang benar sering kali memiliki pola yang dapat dipahami seperti sebuah algoritma makna. Artinya, ada kecenderungan pesan yang berulang dan terarah: mengajak kepada baca Al-Qur’an”, “pelajari ilmu”, “dzikir”, “kembali ke ketauhidan”. Mengapa demikian? Karena hal ini merupakan inti risalah kenabian.
Jika wahyu pertama adalah Iqra’, maka mimpi yang benar dalam Al-Mubashirat adalah sisa kenabian. Sehingga wajar apabila isinya konsisten dalam mendorong manusia untuk membaca, belajar, sadar agar tidak tergelincir dari dosa syirik dan segala bentuk-bentuknya. Otak kita mencerna melalui pikiran sehingga hidup bebas berpikir ketuhanan. Mimpi benar itu notifikasi dari Allah: “Wahai manusia, kembalilah ke Iqra’, jangan lupakan perjanjian Alastu”
Umat yang gemar membaca, berpikir, dan menjunjung kejujuran adalah umat yang hidup. Sebaliknya, umat yang malas membaca dan enggan berpikir akan lebih mudah terjebak dalam kebodohan, manipulasi, dan kehilangan arah. Pada akhirnya, mereka akan jauh dari legacy kebaikan yang seharusnya diwariskan kepada generasi berikutnya.
Penutup
Al-Mubashirat itu reminder halus dari Allah ﷻ. Isinya hampir selalu berhubungan dengan misi awal “Iqra’ bismi Rabbik”. Jauhi kesyirikan dengan segala bentuknya dan hadirkan pertolongan Allah ﷻ . Kejayaan dimulai saat umat menjauhi kesyirikan.
Wallahu a’lam bissawab
Tentang Penulis
Dr. dr. H. Jaya Mualimin, Sp.KJ., M.Kes., MARS adalah tokoh kesehatan, sosial, dan keagamaan di Kalimantan Timur. Beliau menjabat sebagai Ketua Ittihad Persaudaraan Imam Masjid Kalimantan Timur, Ketua Cabang Yayasan Pondok Pesantren Al Bahjah Kalimantan Timur, Ketua IKA UNPAD Kalimantan Timur, serta Pembina Majelis Dzikir Nurul Wathan Kalimantan Timur. Selain aktif dalam kegiatan keagamaan dan pendidikan, beliau juga dikenal sebagai pemerhati sosial dan budaya. Di bidang pemerintahan, beliau saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur.

