Idul Adha adalah Hari Mimpi Sedunia?Idul Adha adalah Hari Mimpi Sedunia?

Mimpi Perintah Mustahil sebagai Ujian bagi Keluarga Ibrahim dan Seluruh Manusia

Idul Adha adalah hari Mimpi Sedunia?

Oleh: Dr.dr.H.Jaya Mualimin, Sp.KJ, M.Kes, MARS

Mimpi yang Mustahil Diterima Logika

Suatu ketika seorang ayah berkata: “Aku dapati mimpi Allah ﷻ memerintahkan menyembelih engkau, apa pendapatmu, nak?”

Sang Anak menjawab: “Ayahku, laksanakanlah sesuai dengan perintah-Nya, semoga kita termasuk orang yang berbakti kepada Allah ﷻ.”

Itulah gambaran totalitas tauhid yang tak ada duanya, tidak ada protes, tidak ada rasionalisasi, tidak ada dramatisasi victim perintah, kecuali mereka menerima perintah mimpi dengan sepenuh hati. Ujian itu berhasil oleh manusia saleh keluarga Ibrahim Alaihis Salam.

Bukan Sekadar Mimpi?

Di akhir zaman ini justru pengetahuan mimpi sering terjadi distorsi baik sejarah dan makna, seolah-olah sekadar bunga tidur dan atau hiburan bagi orang yang sedang mengalami tekanan mental. Padahal pada saat masa-masa nubuwah, mimpi menempati kedudukan istimewa, mimpi 1/46 kenabian, mimpi adalah persiapan para utusan agar kondisi kesadaran jasmani dapat berubah menjadi kesadaran ruhani yang dinamis. Ilmu mimpi menjadi ensiklopedi keilmuan di masa-masa itu dan khazanah turun-temurun dari masa ke masa. Para raja dalam memutuskan keputusan penting bersandarkan dari informasi mimpi di luar manusia kenabian.

Apalagi ketika masa-masa kegelapan fitnah kekuasaan politik dan adu pengaruh spiritual manhaj Islam dalam kondisi sosio-kultural budaya di masyarakat Islam berkembang tanpa kontrol syariat yang kuat [nubuwah sudah melewati generasi terbaik], muncul keyakinan sosok Khidir Alaihis Salam hadir sebagai sosok menggantikan tugas nubuwah kepada orang tertentu. Ajaran ini yang berkembang menjadi ajaran tasawuf dan pernak-pernik “riyadhah”-nya. Sehingga kedudukan dan arti mimpi al-mubasyirat menjadi lebih rendah dari kehadiran sang Nabi Khidir Alaihis Salam. Muncul banyak wali-wali, wali Ghauts, Kutub, afdhal dan sebagainya.

Semua Makhluk itu Bermimpi

Sejatinya semua makhluk yang hidup, tumbuhan, binatang apalagi manusia, semuanya mengalami mimpi. Mimpinya tumbuhan, binatang dan yang hidup adalah zikir kepada Allah ﷻ, kedekatan-Nya, kebesaran-Nya. Itu menjadikan tidak ada sesuatu di dunia termasuk satu daun pun menguning, ranting yang jatuh semua sudah tertulis dan tercatat dalam lembaran Lauh Mahfudz.

Gelombang Beta, Alfa dan Teta

Atom “nuklir” itu adalah partikel unsur yang telah dimurnikan sehingga menjadi aktif (radioaktif). Dalam proses pengayaan atom membutuhkan dan menghasilkan energi, ada gelombang alfa, beta, teta dan termasuk elektromagnetik. Ini sebagai bukti bahwa semua partikel itu bergerak, ada proton, elektron dan neutron yang disimbolkan dengan zikir kepada Allah ﷻ.

Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa kondisi gelombang alfa adalah kondisi alam bawah sadar makhluk di mana ego makhluk itu disingkirkan dari pengaruh kekuasaan-Nya, hak mutlak “af’alullah” bebas dari pengaruh semua makhluk-Nya, karena Dia tidak akan ditanya apa yang dilakukan-Nya, ketika semua makhluk tunduk dan patuh atas perintah baik terpaksa maupun sukarela.

Ketika para ahli merekam dengan elektroensefalografi, terungkap semua makhluk mengalami mimpi maka terbuktilah bahwa ada alam jasmani dan alam ruhani. Pada tumbuhan tercatat proses metabolisme dan katabolisme menghasilkan energi dan membuang energi, proses fotosintesis dengan bantuan sinar matahari dalam menghasilkan klorofil (energi). Termasuk binatang.

Tidur

Saat manusia dan binatang tidur pada kondisi REM [Rapid Eye Movement], terdapat gelombang alfa saat itu peristiwa mimpi-mimpi dapat terjadi termasuk kondisi lucid. Secara otomatis ketika nucleus suprachiasmatic teraktivasi maka direct-connect pada alam supranatural (Lahut, Nasut dan Hut). Di alam bawah sadar kondisi ini, ukuran masa, jarak, waktu itu sangat relatif dan mutlak itu sangat dinamis [angka 1 dan nol, atau tidak terhingga sangat relatif] tergantung kehendak Yang Mahakuasa.

Satu detik [micro-sleep] saja dapat berlangsung satu episode umur puluhan tahun bahkan ribuan tahun di alam sadar pikiran, tercatat di hippocampus kita.

Ujian Tauhid Kekinian

Ketika mimpi menjadi indikator tauhid di akhir zaman ini sesuai nubuwah Rasulullah ﷺ, maka semua manusia diuji dengan masalah yang sama dengan makhluk Tuhan yang pertama: iblis dan malaikat, kemudian pada masa-masa selanjutnya dari Nabi Adam AS dan Hawa, Nuh AS, Hud AS, Saleh AS, Ibrahim AS dan Ismail AS sampai dengan Muhammad ﷺ. Ujian ini juga berlaku kepada umat Muhammad ﷺ sampai akhir zaman.

Menjelang 1500 tahun masa kenabian ini sampai dan al-mubasyirat dari Allah ﷻ telah sampai di telinga kita. Kondisi ini menjadi ujian bagi seluruh manusia yang alim muta’alimin, yang awam bahkan manusia dengan keyakinan yang berbeda. Tidak mungkin informasi kenabian dengan sumber yang sama bertentangan kecuali dunia ini memang diliputi paradoks karena berbagai faktor kemanusiaan, seperti ego, nafsu, kekuasaan, kebodohan ilmu dan sosial ekonomi.

Siapa yang lulus ujian maka kedudukannya setara dengan para ambia, mursalin dan salikin serta makhluk yang pertama malaikat karena lulus untuk sujud kepada Adam AS karena perintah Allah ﷻ yang mustahil.

Al-Mubasyirat itu Mimpi Nubuwah

Beruntung sebagai generasi akhir zaman Allah ﷻ memilih kita untuk menyaksikan peristiwa nubuwah ini. Termasuk perang akhir zaman yang diceritakan dalam mimpi mubasyirat Muhammad Qasim sebagai perang modern [sistem perang yang belum pernah dilakukan sebelumnya], bukan perang konvensional, munculnya sosok al-Masih al-Dajjal yang menjadi buah bibir para Nabi sebagai pembawa fitnah terbesar, selanjutnya turunnya Nabi Isa AS serta keluarnya Yajuj Majuj sebagai penanda besar kiamat.

Penutup

Allah ﷻ sang Maha Pemberi Petunjuk bagi siapa yang dikehendaki, ilmu itu milik Allah ﷻ bukan milik para alim mutaallim, terbukti bahwa meraka sering tertutupi justru oleh cahaya ilmu tersebut. Demikian pula kebodohan akan menyelimuti manusia yang tidak pernah belajar kecuali orang-orang yang diberikan petunjuk, membuka hati nurani dari ego kesombongan pada level apapun.

Wallahu ‘alam bisswab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *