Jiwa Kemanusiaan Muhammad ﷺ Pada Awal Kemunculan Dakwah di Makkah
Oleh: Dr.dr.H.Jaya Mualimin, Sp.KJ, M.Kes, MARS
Laki-laki terpilih dari semua pilihan
Tidak ada manusia yang begitu mulia selain Muhammad ﷺ. Ia adalah terpilih dari semua laki-laki pilihan, laki-laki termulia dari 124.000 Nabi, satu Rasul termulia dari 313 Rasul, dan Ulul ‘Azmi dari 5 Ulul ‘Azmi, serta dua Rasul uswah hasanah. Ia dipilih Allah ﷻ sebagai rahmat lil ‘alamin.
Wa mā arsalnāka illā raḥmatan lil-‘ālamīn
Ditempa sosial dan ekonomi keluarga
Manusia tidak terlepas dari sifat kemanusiaan. Ia dilahirkan dalam keadaan yatim, kemudian piatu ketika umur 6 tahun, lalu diasuh kakeknya. Ia kemudian diasuh paman Abu Thalib, seorang bijaksana tapi miskin. Suasana kondisi sosial ekonomi tersebut justru menjadikan Muhammad ﷺ mandiri, jujur, sopan, penuh tanggung jawab, dan percaya diri. Jiwa entrepreneurship tumbuh.
Dengan sifat tersebut Muhammad sejak kecil telah dipercaya banyak masyarakat Quraisy dalam pekerjaan, mulai menggembala ternak, termasuk jasa penitipan barang, serta jual beli. Tercatat beberapa kali ikut kafilah dagang ke Syam sejak umur 8 tahun. Ia juga bekerja di keluarga pengusaha Khadijah yang kelak menjadi istrinya.
Al-Amin
Sifat jujur dan tanggung jawab ini telah menjadi ikon pribadinya sehingga gelar Al-Amin disematkan kepadanya. Muhammad telah menjadi pemuda idaman, tumpuan harapan banyak pengusaha. Setiap tahun ia dipercaya membawa dagangan ke Syam dengan keuntungan yang berlimpah. Ia juga bekerja sebagai penjaga barang titipan. Terakhir kali barang titipan diserahkan kepada Ali bin Abu Thalib satu hari sebelum hijrah ke Yatsrib.
Dijauhkan dari syirik jahiliah
Tempat yang paling banyak kesyirikan saat itu adalah di dekat Ka’bah dan kota Makkah. Ia ditakdirkan sering tinggal di ladang tempat penggembalaan ternak sehingga tidak terkontaminasi dengan berhala-berhala yang jumlahnya 360 di sekitar Ka’bah. Sering disebutkan bahwa Allah ﷻ menjaganya dari dosa-dosa syirik yang dilakukan kaumnya di Makkah.
Diselamatkan Allah dari dosa kecil
Muhammad adalah seorang yang pendiam, sering menyendiri, dan pemalu. Tercatat ketika remaja bersama teman-teman gembala lainnya, mereka pergi menonton pertunjukan di kota Makkah. Pada saat pertunjukan dimulai, Muhammad justru tertidur pulas sampai pagi dan tidak mengetahui pertunjukan yang ditonton mereka.
Jiwa sensitif pada anak yatim
Sebagai seorang yatim dan piatu, ia memiliki rasa sensitif terhadap anak yatim dan piatu, sehingga sangat peduli kepada mereka (sifat ini sering diungkapkan dalam kehidupan beliau sebagai Abul Yatama).
Sering merenung dan menyendiri
Tidak mungkin beliau tidak mengetahui akan datangnya informasi bahwa kelak ia menjadi Nabi dan Rasul, karena sejak kecil ia telah melewati berbagai peristiwa, mulai dari dibedah dadanya, bertemu dengan pendeta Buhaira. Mereka berpesan bahwa suatu saat ia akan menjadi manusia besar dan pilihan. Informasi ini tentu sering menjadi renungan. Sehingga ia sering menyendiri, memikirkan apa yang sebenarnya akan terjadi pada dirinya, apakah semua itu benar. Semua informasi ini berkecamuk dalam pikirannya dan membuatnya sering merenung tentang apa yang akan terjadi pada dirinya.
Mimpi-mimpi yang tidak biasa
Ia sering bermimpi sejak kecil dan mimpinya sering terbukti benar. Setiap ia berjalan di suatu tempat, ia sering merasa seolah-olah dipanggil oleh objek di sekelilingnya (batu, pohon, dll). Suara-suara dari langit terdengar jelas: “Muhammad… Muhammad…”
Ketika Khadijah membawa Muhammad bertanya kepada pamannya, Warakah bin Naufal, seorang pendeta Nasrani, tentang apa yang dialami Muhammad.
Terinspirasi ke Gua Hira
Mimpi-mimpi tersebut menginspirasi beliau untuk menyendiri di Gua Hira. Di sana beliau beribadah selama lebih dari satu bulan. Hanya Khadijah yang memahami perubahan perilaku suaminya, sementara keluarga lainnya sangat khawatir. Setiap Muhammad pulang dari Gua Hira atau saat Khadijah menjenguk, beliau masih dalam keadaan bingung.
Tiba-tiba Nabi ﷺ pulang dengan menggigil
Hampir 40 hari setelah berada di sana, Muhammad ﷺ datang dengan berkata: “Selimuti aku, selimuti aku.” Dalam keadaan kalut dan ketakutan, beliau menghampiri Khadijah. Maka Khadijah dengan lembut menenangkan dan menghibur suaminya dengan penuh kasih sayang.
Warakah bin Naufal kemudian berkata bahwa itu adalah “Namus”, yaitu Jibril yang pernah datang kepada Musa dan para nabi lainnya. Muhammad ﷺ adalah manusia pilihan, ia akan diusir oleh kaumnya dan kelak akan menjadi pemimpin umat. Jika umurnya masih ada saat itu, Warakah akan menjadi pengikutnya.
Khadijah menghibur
Penenteram kegelisahan itu adalah istri pilihan Allah ﷻ, seorang yang kaya raya, shalihah, dan pemberi semangat dalam susah dan duka. Banyak kisah Muhammad ﷺ sebagai manusia biasa dengan segala dinamika hidupnya. Allah ﷻ menguatkan beliau melalui Khadijah, dengan sikap lembut dan dukungan hartanya agar Muhammad ﷺ tetap kuat dalam berdakwah, termasuk saat dakwah pertama secara terang-terangan di Bukit Shafa.
Kaum Makkah menghardik, memaki, dan menuduh beliau gila karena menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai ajaran nenek moyang mereka. Hati Muhammad ﷺ sedih dan sangat terpukul. Khadijah menghiburnya. Beliau berkata: “Mereka tidak percaya kepadaku. Apakah aku bisa menyampaikan pesan dakwah ini? Aku tidak punya kekuatan apa-apa dan Allah ﷻ memberikan tugas ini kepadaku!” Dengan lembut Khadijah menjawab: “Jangan putus asa, engkau pasti bisa. Jika Allah ﷻ telah mengutusmu, maka Allah ﷻ tidak akan meninggalkanmu. Pasti Allah ﷻ menolong dan memenangkanmu.”
Ketika wahyu tidak turun selama beberapa bulan dan Jibril tidak kunjung datang, sementara masyarakat mengejek bahwa Muhammad ﷺ telah ditinggalkan Tuhannya, beliau sangat gelisah dan khawatir. Beliau merasa dunia terasa sempit dan tidak ada lagi pertolongan dari Allah ﷻ. Khadijah menjadi orang pertama yang menenangkan jiwa suaminya.
Ujian wafatnya Khadijah
Saat jiwa Muhammad ﷺ sangat terguncang dan hatinya sedih, istri yang sangat dicintai wafat. Duka ini juga menimpa para sahabat Rasulullah ﷺ. Tahun itu disebut “‘Amul Huzn” (Tahun Kesedihan).
Namun di balik kesedihan tersebut, pertolongan Allah ﷻ yang dijanjikan akhirnya datang beberapa tahun kemudian, terutama saat hijrah ke Yatsrib pada tahun ke-12 kenabian.
Muhammad ﷺ sabar akan takdir
Beliau mengetahui adanya takdir sejak mimpi-mimpi yang dialaminya, tetapi tidak mengetahui kapan hal itu terjadi. Sifat kemanusiaan membuat suasana penuh haru dan kepasrahan kepada takdir. Beliau diuji secara mental. Allah ﷻ tidak salah memilih ruh dan jasad manusia pilihan tersebut. Ada kesedihan, ada peristiwa yang terjadi, dan ada yang ditangguhkan.
Beliau bersabar dan tidak bertanya kapan semua itu terjadi. Itulah ujian yang harus dilalui para utusan, dan teka-teki itu berlaku umum bagi semua manusia. Ada yang lulus dan ada yang gagal dalam ujian tersebut.
Demikian pula ketika Muhammad ﷺ dan kaumnya telah dijanjikan kemenangan, maka setelah hijrah ke Yatsrib, waktu kemenangan pun tiba dalam peristiwa Perang Badar dengan bantuan ribuan malaikat yang turun bergelombang mengalahkan pasukan Quraisy.
Penutup
Allah ﷻ Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia memilih manusia pilihan dari seluruh manusia, dan ada hikmah yang dapat diambil bagi kita. Seandainya Allah ﷻ memilih utusan dari kalangan manusia biasa seperti kita, apakah kita sanggup menanggung beban tugas itu? Tentu tidak akan sanggup memikulnya.
Sebagai manusia, kita harus menyadari bahwa tugas kita adalah menyambut seruan melalui utusan yang dipilih-Nya. Jangan menjadi penentang seperti tokoh Quraisy atau Yahudi Yatsrib. Kepada-Nya kita kembalikan semua urusan.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb

