Antara Istanbul (Konstantinopel) dan Islamabad (Pakistan): Kota Islam Forever di Akhir ZamanAntara Istanbul (Konstantinopel) dan Islamabad (Pakistan): Kota Islam Forever di Akhir Zaman

Antara Istanbul (Konstantinopel) dan Islamabad (Pakistan): Kota Islam Forever di Akhir Zaman

Oleh: Dr.dr.H.Jaya Mualimin, Sp.KJ, M.Kes, MARS

Pembukaan

Nubuat Nabi ﷺ

“Pernahkah kalian mendengar tentang suatu kota yang salah satu sisinya berada di daratan dan sisi lainnya berada di lautan?” Para sahabat menjawab, “Pernah, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi sampai pasukan dari Bani Ishaq menyerang kota tersebut. Ketika mereka sampai di sana, mereka tidak akan berperang dengan senjata dan tidak pula melepaskan satu anak panah pun. Mereka berkata, ‘Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar’ (Tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar), lalu satu sisi kota itu pun runtuh.” (HR. Muslim, Kitab Al-Fitan wa Ashrat as-Sa’ah).

Seperti Histori Jakarta

Kota adalah simbol peradaban masa lalu. Sebut saja Jayakarta, yang kini menjadi ibu kota Indonesia modern. Pada awalnya, kota ini adalah Batavia, kota penjajah yang kemudian dibebaskan oleh Fatahillah dari Kesultanan Cirebon. Nama Batavia kemudian diganti menjadi kota kemenangan, yaitu “Jayakarta”, yang selanjutnya disesuaikan dengan logat kekinian menjadi “Jakarta”. Jakarta menjadi simbol perjuangan bangsa Indonesia yang telah direncanakan sejak Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai sumpah sakral untuk mengakhiri isu kedaerahan dan membangun persatuan Indonesia sebagai satu bangsa, yaitu Bangsa Indonesia.

KONSTANTINOPEL, ISTANBUL

Islam Selawase, Islam Forever, Islamabad

Demikian pula dengan kota Istanbul, yang dahulu merupakan kota Bizantium, sebuah kota tua yang didirikan oleh Kaisar Agung Konstantin dan diresmikan pada 11 Mei 330 Masehi sebagai jawaban atas Roma yang terus menjadi rebutan para kaisar paganisme.

Pada awal abad ke-5, kota ini menjadi kota metropolitan dengan 20 toko roti umum, 120 toko roti pribadi, 9 pemandian umum, 153 pemandian pribadi, serta 4.388 gedung perkantoran dan apartemen yang dilengkapi dengan arena pacuan. Kota ini juga memiliki sistem pertahanan yang sangat kokoh, baik dari sisi laut maupun darat, dengan lokasi yang berada di atas bukit tinggi.

Kota ini sangat strategis karena menghubungkan beberapa kawasan penting, yaitu Eropa, Eropa Timur, Asia Barat, dan Afrika. Pada tanggal 29 Mei 1453 Masehi, sejarah besar ditorehkan oleh Mehmed II dari Kesultanan Ottoman yang berhasil menaklukkan kota ini setelah lebih dari 200 tahun upaya penaklukan gagal karena kokohnya pertahanan Konstantinopel.

Kemudian Al-Fatih mengambil alih kota tersebut dengan kekuatan yang luar biasa, lalu mengganti namanya menjadi kota Islam selamanya, yaitu “Islambul”. Hal ini selaras dengan hadis nubuat Nabi ﷺ: “Kota Heraklius (Konstantinopel) akan dibuka terlebih dahulu.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi, dan Al-Hakim).

Mimpi Pendiri Ottoman

Ketika Kesultanan Ottoman didirikan, Osman Al-Ghazi (kakek Mehmed II) bermimpi melihat sebuah pohon tumbuh dari dirinya. Akar pohon itu menghunjam ke jantung bumi, sementara ranting, cabang, dan buahnya memenuhi setengah dunia, membentang dari timur ke barat, dari Khurasan (Islamabad) hingga Romawi Barat (Istanbul).

Mubasyirat ini kemudian ditafsirkan oleh Syekh Edebali, seorang ulama kharismatik Ottoman. Seolah menjadi saksi zaman bahwa Kota Istanbul menjadi saksi atas nubuat Nabi ﷺ, yaitu kota pertama Heraklius sebelum kota Roma yang akan ditaklukkan oleh pemimpin akhir zaman yang membukanya dengan takbir, tahlil, dan tahmid.

Di Akhir Zaman

Menjelang wafatnya, Rasulullah ﷺ menangisi dan merindukan umatnya dengan mengucapkan, “Ummati… ummati… ummati…” Beliau, melalui nubuatnya, menyaksikan betapa berat fitnah yang akan menimpa umat yang ditinggalkannya. Namun takdir tidak dapat ditolak dan harus dilalui oleh umat Muhammad ﷺ dalam perjalanan yang sangat panjang hingga tiba masanya.

Di saat yang sama, beliau juga tersenyum bahagia karena mendapat kabar bahwa pada akhirnya umat akan memperoleh kejayaan kembali ketika mereka kembali kepada tauhid, dan seorang cucu dari Ahlul Bait akan memimpin umat pada masa itu. Ia akan memimpin dengan keadilan dan kesejahteraan, membebaskan negeri-negeri yang dijajah, serta membebaskan manusia dari paganisme dan kesyirikan yang telah mengakar dan membudaya dalam masyarakat modern.

Seolah seluruh panas, dahaga, kesedihan, dan pilu akibat fitnah-fitnah ahlas, syarra’, dan dzuhaimah yang menguliti umat hingga ke tulang rusuknya akan terobati. Beliau tidak khawatir terhadap umatnya karena pada akhirnya akan ada seorang laki-laki dari Ahlul Bait yang menolong mereka.

Meskipun fitnah itu dimulai sejak wafatnya beliau ﷺ, lalu melewati masa terbunuhnya para sahabat terbaik seperti Umar, Utsman, dan Ali, bahkan hingga cucu kesayangan Nabi ﷺ dipenggal kepalanya dalam peristiwa Karbala, serta ketika sebagian besar umat terjerumus dalam kesyirikan yang nyata, pada akhirnya Allah ﷻ akan memberikan amanah kepada keturunan Fatimah untuk menyatukan kembali tauhid yang telah tercerai selama lebih dari 1.400 tahun.

Nabi ﷺ sangat berbahagia karena kelak beliau akan memberikan syafaatul uzhma kepada umatnya di akhirat.

Pesan Titipan Nabi ﷺ

Pemimpin yang dijanjikan adalah seorang laki-laki pilihan.

“Dialah Al-Mahdi yang berasal dari keluargaku, dari keturunan Fatimah.” (HR. Abu Dawud).

“Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum seorang laki-laki dari Ahlul Baitku memimpin. Namanya serupa dengan namaku.” (HR. Ahmad).

Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat: Kitab Allah ﷻ dan itrahku (keturunanku), yaitu Ahlul Baitku.” (HR. Tirmidzi).

Mimpi Spiritual Pendiri Pakistan

Pada tahun 1930, Sir Muhammad Ali Jinnah, seorang ahli hukum dan advokat terkenal yang tinggal di London, aktif dalam dunia pergerakan kemerdekaan. Ia lahir di Karachi, British India, dan mendirikan gerakan Liga Muslim India pada 13 Agustus 1914.

Bersama para aktivis gerakan lainnya, seperti Jawaharlal Nehru dengan gerakan Satyagraha dan Mahatma Gandhi dengan prinsip Ahimsa atau tanpa perlawanan, Liga Muslim India menjadi representasi umat Islam India yang saat itu berjumlah hampir 40 juta jiwa dalam perjuangan membebaskan diri dari penjajahan Inggris, terutama di wilayah timur dan barat.

Pengalaman Spiritual Ali Jinnah

Saat itu, Jinnah sering duduk di taman belakang rumahnya. Pada sore hari ia kerap mencium aroma harum yang tidak biasa. Ia berusaha mencari sumbernya, namun setelah semua bunga diperiksa, tidak ada satu pun yang mengeluarkan aroma yang sama.

Peristiwa itu terus berulang setiap sore. Pada malam harinya, ia sering bermimpi mendengar suara yang memintanya pulang ke tanah airnya.

“Engkau pulang ke negerimu, India, agar negerimu menuju puncak takdir kemerdekaan.”

Mimpi itu datang berulang kali. Dalam mimpinya, suara tersebut berasal dari seseorang yang kemudian mengaku sebagai Rasulullah ﷺ. Karena itu, ketika terbangun, ia segera merencanakan kepulangannya ke India.

Pakistan Berlepas dari India

Ketika Inggris menetapkan kemerdekaan India pada 15 Agustus 1947, sehari sebelum deklarasi tersebut dibacakan oleh Jawaharlal Nehru, Ketua Liga Muslim India, Muhammad Ali Jinnah, mengumumkan kemerdekaan Pakistan pada 14 Agustus 1947.

Nama Pakistan berasal dari kata “Pak” yang berarti murni, suci, dan disucikan oleh Allah ﷻ dari kesyirikan (Lā ilāha illallāh), sedangkan “Stan” berarti tanah atau negara. Dengan demikian, Pakistan dimaknai sebagai negara yang berlandaskan kalimat Lā ilāha illallāh, berpisah dari India yang saat itu identik dengan simbol-simbol paganisme. Ibu kota pertamanya adalah Karachi, kota kelahiran Ali Jinnah.

ISLAMABAD

Pada tahun 1967, karena pertimbangan keamanan, ibu kota dipindahkan ke kota baru yang berada dekat Lahore, yaitu Islamabad. Nama kota ini dimaknai sebagai kota Islam selamanya. Kota ini diyakini akan memainkan peran penting karena menerima amanah sebagai negara Lā ilāha illallāh dan akan menjadi penolong ketika Islam dilemahkan pada akhir zaman (zaman kita).

Mubasyirat Pemuda Lahore

Ketika seorang pemuda yang dalam seluruh biografinya dibimbing oleh Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ melalui mimpi-mimpinya, dalam salah satu mimpinya ia diajarkan untuk mengenali syirik melalui kalimat “Lā ilāha illallāh” dan senantiasa berdzikir pagi dan petang dengan bacaan:

“Subhanallahi wa bihamdihi, subhanallahil azhim.”

Inilah senjata umat Islam di akhir zaman dalam menghadapi fitnah yang gelap gulita.

Ghazwa antara Tauhid versus Pagan India

Mimpi-mimpi mengenai peristiwa ini terus datang dan menjadi janji dalam kehidupan Muhammad Qasim. Perang ini dianggap sebagai bagian dari Perang Dunia Ketiga yang telah diprediksi oleh para analis militer, ekonomi, dan politik.

Bahkan sejak Arab Spring satu dekade lalu, mimpi-mimpi Muhammad Qasim menegaskan bahwa perang dunia tersebut akan dimulai setelah Turki dihancurkan. Kota Istambul (Konstantinopel) menjadi saksi ketika direbut kembali oleh Barat, Amerika, dan Israel (sesaat lagi terjadi). Setelah itu, dunia akan mengalami masa-masa sulit selama empat tahun peperangan dengan korban jiwa yang diperkirakan mencapai hampir 1,5 miliar orang.

Pada akhir peperangan, pertolongan Allah ﷻ datang melalui Islamabad dan Jakarta. Atas izin Allah ﷻ, Pakistan memenangkan Perang Dunia Ketiga. Pada masa itu, koalisi Timur yang terdiri atas Pakistan, Indonesia, dan koalisi umat Islam Timur akan membebaskan negeri-negeri Islam, mengalahkan India, mengambil alih wilayah Arab dan Timur Tengah, membebaskan Konstantinopel dan Palestina, serta kota-kota lainnya.

Kota-kota tersebut dibebaskan dengan takbir, tahlil, dan tahmid sesuai dengan nubuat Rasulullah ﷺ.

Kejayaan Islam Terakhir

Masa itu menjadi puncak kejayaan umat Islam. Tidak ada lagi perbedaan yang memecah belah, tidak ada lagi perdebatan dan konflik. Semua bersatu dalam satu tauhid.

Keadaan tersebut digambarkan mirip dengan masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Pemimpin yang sederhana, masyarakat yang makmur, kekayaan yang melimpah, serta pemerintahan yang dipenuhi keadilan dan kesejahteraan. Teknologi pada masa itu bahkan disebut lebih maju dibandingkan teknologi yang berkembang saat ini.

Bangsa-bangsa Eropa dan Barat berbondong-bondong datang ke Pakistan untuk menyaksikan negeri yang sebelumnya dianggap mustahil terwujud di era modern. Muhammad Qasim mendirikan Menara Kesehatan sebagai simbol bahwa kesehatan menjadi hak seluruh warga negara secara merata, adil, dan bebas dari kezaliman.

Allah ﷻ menurunkan keberkahan dari langit dan mengeluarkan kekayaan dari perut bumi sebagai rahmat bagi negeri yang meninggalkan syirik kepada Allah ﷻ.

Namun masa tersebut tidak berlangsung lama, hanya sekitar tujuh atau delapan tahun, karena pengkhianatan bangsa Barat yang dipicu oleh kemunculan tokoh sentral Dajjal. Peperangan besar pun terjadi hingga Allah ﷻ menurunkan Isa bin Maryam untuk mengakhiri fase tersebut.

Penutup

Tiga menara Islam di akhir zaman, yaitu Istambul, Haramain, dan Islamabad, menjadi saksi ketika Islam dilemahkan. Dua menara Islam jatuh, tetapi satu menara yang telah dipersiapkan Allah ﷻ, yaitu menara ketiga (koalisi besar umat Islam Timur), akan bangkit.

Mereka akan mengambil kembali dua menara yang roboh, menegakkannya kembali, sehingga seluruh manusia terbebas dari penjajahan paganisme dan kembali kepada tauhid yang abadi.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Al-Fakir

Tentang Penulis

Dr. dr. H. Jaya Mualimin, Sp.KJ., M.Kes., MARS adalah tokoh kesehatan, sosial, dan keagamaan di Kalimantan Timur. Beliau menjabat sebagai Ketua Ittihad Persaudaraan Imam Masjid Kalimantan Timur, Ketua Cabang Yayasan Pondok Pesantren Al Bahjah Kalimantan Timur, Ketua IKA UNPAD Kalimantan Timur, serta Pembina Majelis Dzikir Nurul Wathan Kalimantan Timur. Selain aktif dalam kegiatan keagamaan dan pendidikan, beliau juga dikenal sebagai pemerhati sosial dan budaya. Di bidang pemerintahan, beliau saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *