Ketauhidan Itu Dakwah Kekinian dan Tumbangnya Dakwah PengakuanKetauhidan Itu Dakwah Kekinian dan Tumbangnya Dakwah Pengakuan

Ketauhidan Itu Dakwah Kekinian dan Tumbangnya Dakwah Pengakuan

Oleh: Dr.dr.H.Jaya Mualimin, Sp.KJ, M.Kes, MARS

Pembuka

Kalimat Lā ilāha illallāh (لَا إِلٰهَ إِلَّا الله) adalah kalimat yang agung. Ia merupakan inti dan pokok ajaran Islam. Dengan mengucapkan kalimat ini, seseorang menandai sikap berserah diri secara total kepada Allah ﷻ. Kalimat ini disebut kalimat tauhid, kalimat ikhlas, ‘urwatul wutsqā, dan kalimatun sawā’.

Dalam kalimat Lā ilāha illallāh (لَا إِلٰهَ إِلَّا الله) terdapat empat komponen, yaitu:

  1. Lā (لَا), yang berarti: tidak ada, meniadakan, atau menafikan.
  2. Ilāh (إِلٰهَ), yang berarti: sesuatu yang disembah atau menjadi tujuan ibadah.
  3. Illā (إِلَّا), yang berarti: kecuali.
  4. Lafẓ al-jalālah, yaitu Allah (الله), nama Allah ﷻ.

Pengakuan Iblis Lebih Mulia dari Nabi Adam ‘Alaihissalām

Kalimat ini adalah pengakuan sebagai makhluk Allah ﷻ sehingga segala sifat kesombongan menjadi musnah dan tidak ada yang dibanggakan selain keagungan Allah ﷻ. Bermula ketika Iblis menolak perintah Allah ﷻ untuk bersujud kepada Nabi Adam ‘Alaihissalām. Iblis merasa lebih mulia karena diciptakan dari api, sementara Adam diciptakan dari tanah. Akibat kesombongannya, Allah ﷻ mengusirnya dari surga dan melaknatnya.

Surah Al-A’raf ayat 12:

Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) sewaktu Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab, ‘Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah liat.’ (QS. Al-A’raf: 12).

Tumbangnya Pengakuan Diri Fir’aun

Ketika kesombongan hadir dalam diri makhluk, kemudian menjadi karakter. Fir’aun mengaku dirinya sebagai tuhan dan penguasa Mesir. Ia membangun Mesir hingga mencapai peradaban yang tinggi dengan bangunan-bangunan kokoh yang menjulang ke langit, piramida-piramida, istana-istana megah, serta bangunan yang berpilar kuat dan tinggi.

Karena kekuasaannya yang seolah tanpa batas, Fir’aun dengan congkak berkata, “Anā Rabbukum al-A’lā” (أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ). Ucapan Fir’aun saat mengaku sebagai tuhan ini diabadikan dalam QS. An-Nazi’at ayat 24:

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

Artinya: “(Seraya) berkata, ‘Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.'”

Nabi Musa ‘Alaihissalām Mengingatkan Fir’aun

Takdir yang baik menyertai bayi Musa ‘Alaihissalām, yang dipilih dari bayi-bayi Bani Israil yang diselamatkan Allah ﷻ. Ia dihanyutkan di Sungai Nil, lalu sampai ke pelukan istri Fir’aun dan dibesarkan di istana Fir’aun sendiri, tepat di hadapan kesombongan Fir’aun tanpa disadari olehnya.

Sampai tiba masa yang telah ditentukan, Fir’aun dan para tukang sihir kebanggaannya dikalahkan oleh mukjizat Nabi Musa ‘Alaihissalām. Ketika Fir’aun beserta bala tentaranya mengejar Nabi Musa ‘Alaihissalām dan para pengikutnya, mereka akhirnya ditenggelamkan di Laut Merah.

Tauhid Itu adalah Berserah Diri (Islam)

Tauhid adalah totalitas berserah diri dan tunduk kepada Allah ﷻ. Sikap ini disebut Islam (berserah diri), sedangkan pelakunya disebut muslim (orang yang berserah diri).

Seorang muslim tidak layak memiliki sifat sombong, karena kesombongan bukanlah sifat orang yang berserah diri (Islam). Kesombongan dapat menjadi syirik kecil (syirik aṣghar) dan berpotensi menjerumuskan manusia kepada kekufuran atau syirik besar apabila sifat tersebut membuat seseorang merasa setara dengan Allah ﷻ atau menolak hukum-hukum-Nya.

Klaim Paling Benar, Klaim Kekasih Allah (Wali Allah), Klaim sebagai Al-Mahdi, atau Klaim Nabi dan Rasul

Dalam ajaran Islam, seseorang yang dengan sengaja mengaku atau mengklaim dirinya sendiri sebagai wali Allah (kekasih Allah) dipandang sebagai bentuk kesombongan, klaim palsu, atau bahkan tanda kebodohan dalam agama. Prinsip ini sesuai dengan nubuwat Nabi Muḥammad ﷺ bahwa ketika pemimpin akhir zaman hadir, ia tidak mendeklarasikan dirinya sebagai utusan Allah ﷻ. Pengakuan semacam ini dapat merusak kemurnian ketauhidan.

Dalam kehidupan dakwah, masih sering ditemukan berbagai bentuk klaim, misalnya mengaku jamaah paling benar atau menganggap ajaran/manhaj tertentu paling sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis, sementara kelompok lain dianggap bid’ah atau sesat.

Padahal, kalimat syahadat adalah kalimatun sawā’, yaitu titik temu atau perjanjian dalam bertauhid. Persoalan ini telah melahirkan banyak perbedaan pemahaman yang cenderung saling bertentangan, saling menyalahkan, saling membid’ahkan, bahkan saling mengkafirkan.

Inilah salah satu bentuk fanatisme golongan (‘aṣabiyyah), ketika setiap kelompok menganggap dirinya paling benar sesuai syariat sehingga memunculkan berbagai perbedaan pemikiran yang mengarah kepada perpecahan, bukan persatuan umat.

Padahal, Islam mengajarkan ketundukan kepada satu Rabb Yang Maha Esa, yaitu Allah ﷻ, kitab yang sama, yaitu Al-Qur’an al-Karim, serta Nabi dan Rasul yang sama, yaitu Nabi Muḥammad ﷺ.

Penutup

Kita ditakdirkan hidup pada fase ini, ketika kezaliman dan kegelapan menyelimuti kehidupan. Oleh karena itu, dakwah tauhid menjadi sangat urgen. Kalimat tauhid adalah titik temu (kalimatun sawā’) dalam beragama, yang menguatkan persatuan dan persaudaraan, menumbuhkan sikap saling mencintai serta bekerja sama.

Kalimat ini juga menjadi penolong bagi manusia dalam menghadapi berbagai fitnah akhir zaman, terutama fitnah Dajjal.

Wallāhu a’lam biṣ-ṣawāb.

Al-Faqir

Tentang Penulis

Dr. dr. H. Jaya Mualimin, Sp.KJ., M.Kes., MARS adalah tokoh kesehatan, sosial, dan keagamaan di Kalimantan Timur. Beliau menjabat sebagai Ketua Ittihad Persaudaraan Imam Masjid Kalimantan Timur, Ketua Cabang Yayasan Pondok Pesantren Al Bahjah Kalimantan Timur, Ketua IKA UNPAD Kalimantan Timur, serta Pembina Majelis Dzikir Nurul Wathan Kalimantan Timur. Selain aktif dalam kegiatan keagamaan dan pendidikan, beliau juga dikenal sebagai pemerhati sosial dan budaya. Di bidang pemerintahan, beliau saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *