Oleh: Dr.dr.H.Jaya Mualimin, Sp.KJ, M.Kes, MARS

Ka’bah adalah bangunan berbentuk kubus yang menjadi pusat ibadah seluruh umat Islam di dunia. Ka’bah juga diketahui sebagai bangunan tertua yang pertama kali didirikan atas wujud kemuliaan dan keberkahan. Dari sana, dapat dimaknai bahwa Ka’bah merupakan kesatuan arah kiblat umat Islam dalam menyembah dan mengesakan Allah ﷻ. Oleh sebab itu, Ka’bah kemudian dikenal dengan sebutan Baitullah (rumah Allah) dan al-baitul al-‘atiq (bangunan tertua).

Ritual ibadah keliling ini disebut thawaf agar manusia mengingat kembali asal mula jati diri saat pertama kali diciptakan untuk totalitas ubudi.

Kita tidak menyembah Ka’bah seperti kesimpulan ngawur, sama sekali tidak. Persis ketika malaikat dan Iblis diminta sujud kepada Adam, iblislah yang terkutuk karena punya kesimpulan ngawur.

Baitullah simbol mengesakan, bentuk totalitas manusia atas Ilah dan Rabb-Nya.

Bangunan ini sempat ditinggalkan manusia setelah bencana banjir bandang Nabi Nuh Alaihis Salam, beberapa abad lamanya. Kemudian Nabi Ibrahim Alaihis Salam membangun kembali dan mengokohkannya saat hijrah di lembah tandus dan sunyi bersama Ismail Alaihis Salam dan bunda Hajar. Muncul mata air zam-zam di dekat Ka’bah. Peristiwa-peristiwa profetik telah menjadi syariat jutaan manusia berkunjung ke Baitullah, melaksanakan haji, thawaf, sa’i, wukuf, dan jumrah: “Kami datang memenuhi undangan-Mu, tiada kesyirikan, dan kekuasaan-Mu mutlak diserahkan kepada yang Engkau kehendaki.”

Ka’bah Saksi Sejarah Tauhid

Ka’bah terletak segaris lurus ke Baitul Makmur, mustawa sampai ke ‘Arsy. Letak ini sangat sentral dalam taqarrub ila Allah dan menjadi saksi di akhir makhluk-Nya: ujian dan perintah pertama dari malaikat dan iblis, Adam, Idris, Nuh, Ibrahim, Lut, Hud, Saleh, Ismail, Ishak, Yaqub, Yusuf, Musa, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Zakaria, Yahya, Isa, sampai kepada Muhammad ﷺ.

Awal Mula Thawaf

Imam al-Suyuti dalam Tafsir al-Jalalain menjelaskan bahwa Ka’bah ini mula-mula dibangun oleh malaikat, sebagai berikut: “Baitullah ini didirikan oleh malaikat sebelum diciptakannya Adam dan setelah itu diletakkan Masjid Al-Aqsa, dan jarak antara keduanya 40 tahun sebagaimana tersebut dalam kedua hadis sahih.” (Jalaluddin al-Suyuti, Tafsir al-Jalalain, QS Ali Imran: 96).

Peristiwa awal terjadi ketika khalifah (manusia) akan diciptakan. Malaikat dan iblis, makhluk pertama yang bertasbih, mengesakan Allah ﷻ dengan gerak berkeliling menyembah Allah ﷻ , sempat mendebat (Al-Baqarah: 30):

“…mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’”

Ketika Adam Alaihis Salam diturunkan ke bumi oleh Allah ﷻ, beliau diperintahkan membangun tempat agar manusia berkumpul berkeliling thawaf seperti saat malaikat dan iblis bertasbih mentauhidkan Allah ﷻ.

Ujian Manusia tentang Ketauhidan

Setiap zaman saat para nabi/rasul diutus, Allah ﷻ akan memutar kembali peristiwa saat malaikat dan iblis diuji dengan ketaatan, seolah Allah ﷻ menegaskan kembali (Surat Al-A’raf ayat 173):

“…Alastu bi rabbikum?”

Agar manusia tidak protes di akhirat, karena perjanjian itu selalu dikuatkan dengan ujian tentang keesaan Allah ﷻ. Ada yang menyambut seruan ini, ada juga yang menyombongkan diri.

Keluarga Ibrahim Alaihis Salam Membangun Baitullah

Kisah ini beberapa kali disinggung oleh Allah ﷻ di dalam Al-Qur’an. Syaikh Hamid Ahmad Ath-Thahir Al-Basyuni dalam Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an menyebutkan bahwa pembangunan Ka’bah adalah perintah dari Allah ﷻ.

Ibnu Abbas RA menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim Alaihis Salam berkata,

“Wahai Ismail, sesungguhnya Allah memerintahkan sesuatu kepadaku.”

Ismail Alaihis Salam menjawab, “Kerjakanlah apa yang diperintahkan Tuhan!”

“Apakah kamu mau membantuku?” jawab Ibrahim Alaihis Salam.

Ismail berkata, “Aku akan membantumu.”

Kemudian Nabi Ibrahim Alaihis Salam berkata,

“Sesungguhnya Allah telah menyuruhku untuk membangun sebuah rumah di sini,” sembari menunjuk kepada anak bukit.

Keduanya lalu menggali pondasi seraya berdoa, “Wahai Tuhan kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Setelah itu, Nabi Ibrahim Alaihis Salam dan Ismail Alaihis Salam meninggikan pondasi Ka’bah. Ismail membawa batu dan memikulnya di atas pundaknya.

Sementara itu, ayahnya, Ibrahim Alaihis Salam, membangun dan menyusun batu-batu itu hingga beberapa tumpukan. Setelah menjadi tinggi dan Nabi Ibrahim Alaihis Salam sulit menjangkaunya, Ismail Alaihis Salam datang membawa batu dan meletakkannya di bawah kaki ayahnya.

Batu yang digunakan sebagai pijakan Nabi Ibrahim Alaihis Salam inilah yang kelak menjadi maqam, yakni tempat Ibrahim Alaihis Salam berdiri di atasnya.

Di saat Nabi Ibrahim Alaihis Salam menyusun batu-batu itu, Ismail Alaihis Salam terus mengambil batu yang lain dan memikulnya hingga bangunan Ka’bah itu selesai.

Keduanya berkata,

“Wahai Tuhan kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Nabi Ibrahim Alaihis Salam dan Nabi Ismail Alaihis Salam membangun Ka’bah setiap hari meskipun dilalui dengan cuaca yang amat panas dan terik. Di setiap langkah dan proses pembangunan itu, lisan keduanya tak pernah berhenti mengucapkan doa,

“Wahai Tuhan kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Keduanya senantiasa mengucapkan doa ini karena takut amal mereka tidak diterima Allah ﷻ. Meskipun pintu amal telah dibuka, namun pintu diterimanya amal masih tertutup. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim Alaihis Salam dan Ismail Alaihis Salam terus berdoa kepada Allah ﷻ.

Ketika pembangunan Ka’bah hampir selesai, Nabi Ibrahim Alaihis Salam masih merasa ada yang kurang. Ia membutuhkan sebuah tanda untuk memulai dan mengakhiri tawaf.

Kemudian ia menyuruh Ismail untuk mencari sebuah batu. Ia pun mencarinya dengan mendaki wilayah bukit, hingga datanglah Jibril Alaihis Salam dengan membawa batu (Hajar Aswad) sembari meletakkannya di salah satu sudut Ka’bah.

Ismail lalu menghampiri ayahnya, sementara Hajar Aswad telah menancap dengan kokoh. Dia berkata, “Wahai ayah, siapa yang membawakan untukmu batu ini?”

Nabi Ibrahim Alaihis Salam menjawab, “Jibril datang kepadaku dari langit dan menyusun batu ini.”

Beberapa nabi dan rasul yang telah diutus pada kurun yang berbeda mempunyai pesan yang sama tentang ketuhanan yang esa serta menjauhi syirik.

Ka’bah Pusat Ibadah Tauhid Kaum Quraisy di Makkah

Kemudian Nabi Muhammad ﷺ memurnikan tauhid dari praktik kesyirikan di Ka’bah. Selama 13 tahun, Nabi Muhammad ﷺ menyampaikan pesan untuk mengagungkan keesaan Allah ﷻ dengan meninggalkan kesyirikan yang telah menjadi tradisi kaum Quraisy saat itu. Di sekitar Ka’bah terdapat 360 patung, dengan empat patung utama: Latta, Uzza, Manat, dan Hubal.

Awalnya, dakwah tauhid Rasulullah ﷺ ditentang kaumnya karena dianggap tidak relevan. Silsilah Nabi, dari kakeknya Syaibah (Abdul Muthalib) sampai bin Kilab, adalah pengurus Ka’bah turun-temurun. Mereka telah berpuluh tahun melaksanakan ritual keagamaan sesuai adat istiadat nenek moyangnya.

Ka’bah juga Dijadikan Pusat Ibadah Kaum Quraisy

Karena banyak tekanan dari Quraisy, Rasulullah ﷺ beserta pengikutnya hijrah ke Madinah. Dakwah diterima, dan puncak dari pertentangan ini terjadi dengan tekanan militer. Allah ﷻ memenangkan kaum tauhid dari Quraisy melalui Fathu Makkah. Makkah dibuka untuk memurnikan tauhid. Semua patung dihancurkan, dan Ka’bah dikembalikan fungsinya seperti pada masa Nabi Ibrahim Alaihis Salam. Seluruh Jazirah Arab menjadi pengikut tauhid, dakwah diterima, dan Islam menyebar ke seluruh dunia.

Lebih dari 1400 tahun telah berlalu. Umat Islam mengarungi pasang surut, setidaknya ada lima periodisasi:

  1. An-nubuwwah (Rasulullah ﷺ), 10 tahun (622–632)
  2. Khilafah sahabat, 30 tahun (632–662)
  3. Kerajaan zalim, 1000 tahun (662–1600)
  4. Penguasa penjajah Barat, 430 tahun (1600–2030)
  5. Kepemimpinan sistem kenabian, 7/9 tahun (2030–?)

Menjadi penanda zaman menginjak abad ke-15, di mana kemurnian tauhid telah berpudar seiring pudarnya zaman, sebagaimana berita nubuwat Rasulullah ﷺ: perpecahan, fitnah, saling bertikai, serta kezaliman dan syirik merajalela. Ketika zaman itu muncul, ditandai dengan fitnah syarra’, duhaimah. Allah ﷻ akan menguji kembali ketauhidan manusia.

Ka’bah akan Menjadi Saksi Ujian Tauhid yang Terakhir

Umat pertama adalah malaikat dan iblis. Malaikat dari cahaya, sedangkan iblis dari api. Mereka makhluk yang sangat taat kepada Allah ﷻ, beribadah sejak diciptakan, memuji dan mengesakan Allahﷻ hingga ujian datang. Di antara mereka ada yang taat (malaikat) dan ingkar (iblis laknatullah ‘alaih).

Ka’bah akan menjadi saksi ketika laki-laki pilihan Allah ﷻ yang akan memandu umat kepada ketauhidan abadi ditunjuk di depan Hajar Aswad. Sebagian manusia akan memusuhinya serta mengejarnya untuk dibunuh, tetapi Allah ﷻ menjaganya dan menguatkannya seketika.

Seruan Tauhid melalui Wahyu Paling Akhir

Al-mubasyirat adalah wahyu melalui mimpi dengan kadar 1/46 dari wahyu yang dibawa Jibril Alaihis Salam, menandakan bahwa zaman ini benar-benar telah datang. Ditandai satu pesan abadi, yaitu kemurnian ajaran tentang ketauhidan dan menjauhi syirik kepada Allah ﷻ. Pesan mimpinya memiliki satu arus utama (mainstream), satu kesatuan ajaran Islam. Pesan mimpi ini seperti tumpukan batu bata yang tersusun sebagai bangunan Islam yang dinarasikan langsung oleh Allah ﷻ.

Wallahu a’lam bish-shawab

Al-Fakir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *