Belajar dari Addas Pekerja Kebun di Thaif terhadap Wahyu Nabi Muhammad

Belajar dari Addas Pekerja Kebun di Thaif terhadap Wahyu Nabi Muhammad

Oleh: Dr. dr. H. Jaya Mualimin, SpKj, M.Kes, MARS

Kota Thaif menjadi saksi sejarah, terletak sekitar 75 mil dari Makkah di sebelah tenggara. Kota Thaif menawarkan sejarah dimana Rasulullah ﷺ sendiri pernah berdakwah di kota ini. Kota ini dikenal sebagai rumah bagi suku Tsaqif atau Bani Tsaqif, suku yang menjadi saksi dari perjalanan dakwah yang dilakukan Rasulullah ﷺ.

Kedatangan Rasulullah ﷺ ke Kota Thaif bertujuan untuk menyampaikan dakwah dan memohon perlindungan kepada suku Tsaqif dari tekanan yang beliau terima di Makkah.

Kedatangan Rasulullah ﷺ ke Kota Thaif untuk berdakwah bisa jadi disebabkan karena Kota Thaif merupakan pusat kekuatan dan kepemimpinan yang kedua setelah Makkah atau sebab paman-paman beliau berasal dari Bani Tsaqif.

Setelah tiba di Kota Thaif, Rasulullah ﷺ kemudian menemui tiga pembesar Bani Tsaqif, yaitu Mas’ud, Abdu Yalail, dan Habib. Beliau duduk bersama mereka dan mengajak mereka untuk beriman kepada Allah ﷻ.

Ternyata, Rasulullah ﷺ justru menghadapi penolakan yang sangat keras dari suku Tsaqif. Mereka menghina Rasulullah ﷺ, membujuk orang-orang bodoh dan budak-budak mereka untuk meneriaki beliau, kemudian melempari beliau dengan batu.

Zaid bin Haritsah, seorang sahabat yang menemani Rasulullah ﷺ ke Kota Thaif, sudah berusaha melindungi beliau dari lemparan batu. Namun, batu tersebut tetap mengenai tubuh Rasulullah ﷺ hingga berdarah-darah,

Rasulullah ﷺ bersama Zaid kemudian duduk beristirahat di bawah pohon anggur dalam keadaan menderita. Ternyata, apa yang ditemuinya di Kota Thaif jauh lebih berat daripada yang diterimanya dari orang-orang kafir Quraisy di Makkah.

Addas Seorang Nasrani

Addas seorang Nasrani, ia bukan penduduk asli, bukan dari suku Arab, ia berasal dari kota Ninawa (lebih dekat di daerah Irak). Ia belum dikenal luas dalam sejarah Islam. Ia sudah lama bekerja di kebun milik orang Arab di daerah Thaif yang sejuk dan subur.

Saat-saat mengharukan peristiwa Thaif di kebun Kurma milik Syaibah, Nabi terduduk lesu istirahat karena luka-luka akibat lemparan batu-batu dari penduduk Thaif ditemani sahabat setianya Zaid bin Harisah RA. Sementara dari kejauhan terlihat pemilik kebun memerintahkan Addas (seorang nasrani, pekerja kebun). Syaibah merasa iba terhadap Nabi ﷺ yang sedang istirahat. Syaibah memerintahkan Addas untuk memberikan setandan anggur dan minuman. Ia juga berpesan jangan terlalu dekat atau bicara karena khawatir terpengaruh sihirnya. Ketika Nabi Muhammad ﷺ memakan anggur, Nabi seraya membaca “Bismillahirahamnirahiim”

Addas terkejut, secara reflek ia bertanya, “Saya tidak pernah mendengar kata-kata tersebut dari masyarakat Arab. Kalimat ini tidak umum dibaca kaum Anda kecuali dari kaum Nasrani dan Yahudi, siapa sejatinya Anda?

Nabi bertanya balik, “Siapa Anda, asal dari mana?”

Jawab Addas, “Nama saya Addas, dari Kota Ninawa.”

Lalu Nabi Muhammad ﷺ berkata, “Kota dari seorang Nabi Yunus bin Matta?”

Kembali terkejut Addas bertanya, “Apa yang Anda tahu tentang Yunus bin Matta?”

Nabi Muhammad ﷺ berkata, “Yunus dan Saya adalah sama-sama utusan Allah ﷻ. Ia diutus di Ninawa dan saya adalah utusan terakhir”.

Seketika Addas memeluk tubuh Nabi Muhammad ﷺ dan menciumi kaki Rasulullah ﷺ. Sementara di kejauhan Syaibah terlihat khawatir meminta Addas kembali. Karena Addas terlihat akrab, lama berdialog dengan Nabi ﷺ. Kekhawatiran mereka terbukti karena Addas telah mempercayai dakwah Nabi Muhammad ﷺ.

Secepat itukah Addas mempercayai Nabi Muhammad ﷺ hanya dengan ketemu sejenak di bawah pohon Kurma?

Secara teori bahwa mengubah keyakinan perlu waktu yang panjang. Seseorang harus menelaah, mendalami, merenungi dan mencocokkan sanad baik dalil logika dan naqli, tidak cukup dengan ngobrol di bawah pohon lalu berubah dan percaya. Addas juga menjumpai seluruh masyarakat Arab terutama di Thaif menolak Nabi Muhammad ﷺ. Mereka mencaci, mengolok dan mengusir dengan lemparan batu-batu yang melukai sampai berdarah-darah. Seorang Addas mengambil jalan berbeda dari mayoritas masyarakat Arab saat itu.

Ada Apa dengan Addas

Itulah pilihan Addas dan tidak ada yang salah karena itulah rahmat-Nya, yang memilih Addas sebagai orang saksi Nabi Muhammad ﷺ pada awal dakwahnya di Thaif.

Kalimat Bismillah

Kalimat Bismillahirohmanirahiim menjadi kalimat sangat penting, pintu masuk hidayah, kemudian cerita kisah Nabi Yunus bin Matta dari Ninawa menjadi penguat. Perlakuan masyarakat mengusir, mengolok-olok menjadi bukti nyata, seorang Addas percaya ia seorang Nabi dan Rasul. Karena bisa merangkai cerita yang ada benang merahnya antara agama-agama terdahulu dengan ajaran yang menjadi pesan dakwah barunya. Kalimat bismillah telah menyentuh hati keyakinan paling kritis.

Padahal Nabi Muhammad ﷺ adalah bukan orang Nasrani. Ia tidak paham al Kitab. Ia tidak pandai bercakap bahasa Ibrani. Ia umi tidak sekolah agama.Tetapi semua pengetahuannya melebihi seorang rahib dan pendeta pada masa itu. Pemikiran kritis inilah yang menghasilkan satu penemuan sinyal kewahyuan. Orang yang terpilih lah akan menyambut hidayah-Nya. Mereka dengan rahmat-Nya mampu menangkap sinyal-sinyal kewahyuan (kenabian).

Fenomena Al Mubasyirat

Mendekati 1500 tahun setelah Nabi Muhammad ﷺ wafat dan tidak ada wahyu turun kecuali al-mubasyirat atau mimpi yang baik. Nabi ﷺ sendiri selalu menanyakan mimpi para Sahabat pada saat menjelang Subuh, siapa diantara sahabat-sahabat yang mimpi malam ini. Meskipun wahyu masih berjalan tetapi mimpi juga dapat dijadikan hujjah hukum. Sejarah Azan menjadi bukti berasal dari mimpi salah satu sahabat.

Fenomena mimpi Muhammad Qasim bin Abdul Karim juga harus dikaji secara mendalam apa isi dan muatan dalam mimpinya. Apakah ada keterkaitan dengan pesan ketauhidan sepanjang sejarah manusia? Apakah mengandung ajaran kesesatan atau hanya cerita fiktif seseorang Muhammad Qasim?

Menolak Sebelum Mempelajari Isi Mimpi Qasim

Banyak yang menolak dan menuduh bahwa mimpi Qasim adalah rekaan fiktif belaka karena ia bukan orang saleh dan alim dalam agama. Orang-orang yang menuduh baik dari kalangan ulama, cendekia dan tokoh belum membaca secara detail, menyeluruh isi mimpi dan pesan yang disampaikan.

Tuduhan Kepada Sifat Pribadi Seseorang

Alih-alih mempelajari mimpi orang tersebut justru menyerang empunya pemimpi. Tuduhannya diarahkan secara pribadi karena ia bukan ulama, bukan pribadi spiritual tinggi (tidak berjenggot, tidak bergamis, tidak pandai bahasa Arab, kurang beribadah), maka semua mimpinya dianggap cerita dari syaithan. Semua orang punya mimpi siapa pun, tidak terkait dengan apakah orang tersebut orang alim, saleh atau orang awam karena mimpi adalah anugrah Tuhan kepada makhluknya termasuk binatang. Hubungan antara mimpi yang benar adalah terkait kejujuran ucapan seseorang.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Menjelang akhir zaman, hampir tidak ada mimpi yang dilihat Muslim tidak akan menjadi kenyataan. Orang yang mimpinya paling jujur adalah orang yang ucapannya paling jujur. Mimpi Muslim merupakan salah satu dari empat puluh lima bagian Nubuat. Mimpi ada tiga jenis: mimpi baik yang merupakan kabar baik dari Allah; mimpi yang menyebabkan kesusahan, yang datang dari Syaitan; dan mimpi tentang hal-hal yang sedang dipikirkan seseorang… ”(HR. Muslim, 2263)

Belajar Dari Seorang Addas

Addas menjadi pelajaran, di saat masyarakat menjauhi dan mengusir ia memperhatikan apa yang keluar dari ucapan Nabi Muhammad ﷺ. Ia hubungkan dengan ajaran-ajaran masa lalu apakah ada kesesuaian atau tidak dan hanya bertemu sebentar dan mendengar penjelasan Nabi Muhammad ﷺ, maka Addas langsung menciumi kaki sangat percaya bahwa ini adalah wahyu yang tidak terputus dari seluruh rangkaian utusan Allah ﷻ.

Lalu..

Akankah kita tidak mau mempelajari al mubasyirat yang sedang ramai di media sosial yang telah disampaikan oleh Muhammad Qasim bin Abdul Karim seorang yang jujur dalam ucapannya?

Pesan utamanya adalah menjauhi syirik sebagai musuh utama umat manusia. Meninggalkan perbuatan syirik harus dilakukan agar Allah ﷻ memberikan pertolongan.

Ayo…

Telaah, pelajari karena banyak sekali pelajaran. Ini bukan ajaran baru tapi menguatkan ajaran Rasulullah ﷺ. Ini pesan moral di akhir zaman. Setelah itu serahkan saja pada Allah ﷻ karena Allah ﷻ yang memberi hidayah. Seperti sahabat Addas, raja Najasi, para sahabat pertama lainnya dalam dakwah Islam.

Wallahu ‘alam bissawab

Al Fakir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *